![]() |
| illustration |
Menjadi penulis adalah cita-cita yang gue miliki sejak kecil. gue suka baca buku-buku cerita, novel, komik, dan majalah. gue terpesona dengan dunia imajinasi yang diciptakan oleh para penulis, yaa gue ingin bisa menulis seperti mereka, dan membuat orang lain senang dengan karyaku..
gue mulai belajar menulis sejak SD. gue sering menulis cerpen, puisi, dan artikel di buku harian, atau nyoret nyoret tembok rumah HAHAHA, terus ngasah kemampuan menulis gue, gue baca banyak buku dan sumber referensi untuk menambah wawasan dan ilmu gue. gue juga mengikuti berbagai kursus, forum, dan seminar yang berkaitan dengan menulis. gue juga ikut gabung dengan komunitas penulis, baik online maupun offline, untuk berbagi pengalaman dan belajar dari sesama penulis.
ternyata tidak semudah itu.
gue sadar bahwa menulis bukanlah hal yang mudah. gue sering mengalami kesulitan, seperti kehabisan ide, kesalahan ejaan, kritik pedas, dan penolakan. gue juga harus bersaing dengan banyak penulis lain yang juga berbakat dan berkualitas. gue harus bekerja lebih keras, sabar, dan pantang menyerah untuk mencapai cita-cita gue. yaaa gue juga sadar bahwa menulis bukanlah hal yang sia-sia. gue merasa menulis adalah sebuah passion gue, gue juga ngerasa menulis adalah cara gue mengekspresikan diri dan aktualisasi diri gue.
cita-cita jadi penulis itu malah ditentang sama lingkungan gue. Orang tua gue nggak setuju sama pilihan gue. Mereka bilang, nulis itu nggak bisa bikin aku hidup mapan dan sejahtera. Mereka pengen gue jadi guru atau pengacara dll, tapi jangan jadi penulis. Mereka bilang, itu profesi yang lebih terhormat dan bergengsi. cita-cita jadi penulis itu malah ditentang sama lingkungan gue. Orang tua gue nggak setuju sama pilihan gue. Mereka bilang, nulis itu nggak bisa bikin aku hidup mapan dan sejahtera.. mungkin mereka masih awam dan gak tau kalau di masa depan akan jadi serba digital, idk wkwkwkwk
Teman-teman gue juga nggak mendukung gue. Mereka bilang, nulis itu cuma hobi yang nggak penting. Mereka pengen nya tuh gue ikut mereka main, nongkrong, atau jalan-jalan. Mereka bilang, itu lebih seru dan menyenangkan. mereka juga nggak ngehargai gue. Mereka bilang, nulis itu cuma buang-buang waktu dan energi. Mereka nggak ngerti, nulis itu adalah passion dan kebahagiaan gue.kadang gue ngerasa sedih dan tertekan, gue merasa nggak ada yang peduli sama cita-cita gue, Gue merasa nggak ada yang mengapresiasi sama karya gue. merasa nggak ada yang terinspirasi sama tulisan gue, merasa nggak ada yang memotivasi diri gue, sampai akhirnya gue melupakan mimpi itu.
**
Jeda.
" Bukan berarti harus berhenti di jeda waktu.
Meski langkah terhenti, jangan biarkan hati berdiam.
Karena mimpi adalah bintang yang tak pernah padam.
Jeda hanyalah istirahat sejenak, bukan akhir cerita,
Sebuah kesempatan untuk mengambil napas, dan melanjutkan perjuangan.
Mimpi-mimpi kita adalah api yang tak pernah mati,
Menyala meski dalam jeda, menanti untuk kembali berpijar.
Jangan biarkan jeda menjadi penghalang,
Biarlah ia menjadi momentum untuk mempersiapkan diri.
Karena mimpi-mimpi kita lebih besar dari sekedar jeda,
Dan kita adalah pejuang yang tak pernah berhenti.
Jadi, saat kamu berada di jeda,
Ingatlah bahwa ini bukan akhir.
Ini hanyalah awal dari babak baru,
Dan mimpi-mimpi kita akan tetap hidup, menunggu untuk direalisasikan."
***
Sampai jumpa di mimpi yang terbaik,
Di mana semua penantian dan jeda akan berakhir.
Dan kita akan merayakan, bukan hanya mimpi yang telah menjadi nyata,
Tapi juga jeda-jeda yang telah membuat kita lebih kuat.

