Berdamai Dengan luka yang terabaikan

 



Kadang, kita terlalu sibuk mengurus luka orang lain, hingga kita lupa untuk menengok ke dalam diri sendiri. Sering kali kita merasa harus terus menjadi tempat bagi orang lain, memberikan yang terbaik untuk mereka, padahal kita sendiri sedang terjatuh. Kita berusaha keras untuk terlihat kuat, sementara dalam diam, kita merasakan sakit yang tak terucapkan.

Aku ingin sekali meminta maaf kepada diriku sendiri. Maaf karena aku terlalu sering menunda untuk merawat luka-luka yang ada dalam diriku, dan malah memilih untuk terus menyembuhkan luka orang lain, meski tanganku sendiri gemetar. Maaf karena aku tidak memberi ruang bagi diriku untuk merasa, untuk merasakan sakit dan memberi waktu pada diriku untuk sembuh. Aku terlalu terbiasa menyembunyikan rasa sakit ini, bersembunyi di balik senyum palsu, hingga tidak ada yang tahu kalau aku sedang berjuang sendirian.

You can’t pour from an empty cup. Take care of yourself first. ~ Unknow 

Selama ini, aku membiarkan diriku menutup luka orang lain, sementara luka dalam diriku terus berdarah. Maaf untuk setiap hari ketika aku merasa hancur, tapi memaksa diri untuk tertawa dan berpura-pura semuanya baik-baik saja di luar sana. Di antara rasa sakit yang perlahan melenyap dan harapan yang kian pudar, kini saatnya aku berhenti sejenak. Memberikan kesempatan pada diriku untuk merasakan kebahagiaan yang selama ini aku berikan pada orang lain.

Terima kasih untuk diriku yang sudah bertahan hingga titik ini. Aku tau perjalanan ini tidak mudah, dan aku bukan hanya harus bertahan, tetapi aku berhak untuk merasakan kebahagiaan. Bukan karena aku harus, tetapi karena aku pantas untuk merasakannya. Aku belajar bahwa kebahagiaan diri sendiri juga penting, dan aku harus mulai memberi tempat bagi diriku untuk bahagia, tanpa memaksakan diri.

It takes courage to grow up and become who you really are. -E.E. Cummings

 Sering kali, kita mengabaikan diri sendiri dengan alasan bahwa kebahagiaan orang lain lebih penting. Kita merasa harus selalu ada untuk orang lain, tanpa memberi waktu untuk diri sendiri untuk pulih. Tapi, apakah kita pernah bertanya pada diri sendiri, "Apakah aku pantas mendapatkan kebaikan yang sama?" Jawabannya adalah, iya, kita berhak mendapatkan cinta dan perhatian yang sama besar seperti yang kita berikan kepada orang lain.

the most powerful relationship you will ever have is the relationship with yourself.

Mungkin di kemarin. kita terlalu banyak menutup luka tanpa benar-benar merasakannya, hanya agar orang lain tidak merasa terbebani. Tapi sekarang, saatnya untuk berhenti. Saatnya untuk memberi izin pada diri sendiri untuk merasa lelah, untuk mengatakan "tidak" ketika merasa terlampaui, dan untuk belajar menjaga batas-batas kita. Ini bukan tentang menjadi sempurna, ini tentang memberi ruang bagi diri sendiri untuk tumbuh.

Sekarang, aku mulai belajar untuk memberi ruang pada diriku sendiri, untuk merawat diri ini dengan kasih yang selama ini aku berikan pada orang lain. Ini adalah perjalanan untuk sembuh, dan aku tahu bahwa perjalanan ini dimulai dengan langkah pertama: mencintai diri sendiri. Mari kita lanjutkan perjalanan ini dengan lebih bahagia tanpa beban yang tak perlu, dan memberi diri kesempatan untuk merasakan kebahagiaan yang utuh. Mari berjanji pada diri ini: untuk terus berjalan, untuk terus mencoba, dan untuk menerima bahwa kebahagiaan kita adalah hak, bukan lagi sekadar harapan. Mari berjanji pada diri ini, untuk terus berjalan, untuk terus mencoba, dan untuk menerima bahwa kebahagiaan kita adalah hak, bukan lagi sekadar harapan.

To love oneself is the beginning of a lifelong romance.Oscar Wilde