*All images in this article are sourced from Pinterest with various origins.
Each image is copyrighted by its respective creator.
For more information, please visit Pinterest.*
Hi, gue mau cerita tentang pengalaman yang bikin hidup gue hancur. Semua dimulai pada tanggal 31 Maret 2021 ya, betul, dua minggu setelah ulang tahun gue.
Subuh itu, entah kenapa, gue tiba-tiba kepo. Padahal biasanya, gue selalu menghargai privasi cowok gue kita sebut aja si (K). Tapi, kali ini rasa penasaran gue mengalahkan semuanya. Ada dorongan kuat yang nggak bisa gue tahan. Gue buka laptopnya... dan lo tahu apa yang gue temuin?
Bukti transfer uang ke RV!
Gila, tangan gue langsung gemeteran. Jantung gue kayak mau copot. Kepala gue mendadak kosong, tapi di saat bersamaan, pikiran gue juga penuh sama ribuan pertanyaan.
Kayak... HAH? Seriusan?! Ini nggak mungkin, kan? Demi apa?! Apa yang selama ini cuma gue bayangin ternyata beneran kejadian.
Gue ngfreeze, nggak bisa percaya sama apa yang gue lihat. Gue gedor pintu kamar mandi.
“K! Keluar lo sekarang!” gue teriak sambil nangis, udah nggak peduli lagi sama jam berapa itu.
Dia keluar dengan muka bingung, tapi lo tau apa yang dia bilang?
“Kenapa sih, lo ribut subuh-subuh gini?”
Gue tunjukin layar laptop ke dia, dan ekspresi dia langsung berubah. Tapi yang keluar dari mulutnya malah, “Itu nggak kayak yang lo pikirin...”
Serius?! Gue udah nggak mau denger omong kosongnya lagi. Semua udah jelas. Dia cuma nyari alasan buat nutupin kelakuannya.
Tanpa pikir panjang, gue langsung samperin RV di kamar sebelah.
“Lo keluar dari rumah gue sekarang juga!” Gue bentak dia dengan suara bergetar, antara marah, kecewa, dan hancur.
RV cuma duduk di kasur, bengong kayak nggak ada beban. Wajahnya datar, seolah apa yang gue omongin nggak penting sama sekali. Gue tunggu dia ngeluarin satu kata pembelaan, tapi dia cuma diem.
“Lo tega, ya? Gue kasih lo tempat tinggal, gue percaya lo, tapi lo malah nusuk gue dari belakang!” Gue teriak, ngerasa seluruh tubuh gue gemetar karena marah.
RV tetap nggak bereaksi. Mata gue panas, tapi gue tahan biar nggak jatuh air mata di depannya. Dia nggak layak ngeliat gue hancur.
“Keluar, gue bilang! Sekarang juga!” Gue tunjuk pintu dengan tangan gemetaran, tapi dia tetap duduk seolah semua ini cuma lelucon. Dia cuma diem, nggak ada ekspresi, nggak ada pembelaan.
Gue terisak, “Kenapa lu lakuin ini sama gue? Apa salah gue?” Jilbab cuma jadi tameng buat nutupin kebusukan lo.” Dia cuma menatap dengan kosong, seolah semua yang terjadi nggak ada artinya buat dia.
“Lo gila, lo diem jangan teriak-teriak ,” kata K dengan nada defensif. lo gak paham, ini rumit!!
dada gue sesak. Gue ngeliat RV, dan kali ini, pandangannya udah nggak ada rasa bersalah. Yang ada cuma ketidakpedulian, kayak semua ini nggak berpengaruh sama hidupnya. kecewa, bukan cuma sama dia, tapi juga sama K yang seharusnya jadi orang yang melindungi gue.
“Gue udah nyoba jadi sahabat yang baik,” gue sambil berusaha menahan tangis. “Tapi semua ini bikin gue ngerasa ditipu. Gue kasih lo tempat tinggal, kerjaan, kasih lo kepercayaan, sebisa gue, gue kasih yang terbaik buat lu, dan ini yang gue dapet?”
Dia masih diem, nggak ada jawaban. Momen itu bener-bener hancur. Semua usaha dan cinta yang gue berikan selama ini kayak sia-sia. Semangat dan harapan yang pernah ada tinggal puing-puing.
Gue balik lagi ke K, “Lo ngerti kan apa yang lo lakuin? Lu udah menghancurkan kepercayaan gue.”
Dia cuma menggeleng, tampak bingung dan defensif. “Lo nggak bisa ngerasa sendiri, ini lebih rumit dari yang lo pikir.”
“Rumit apanya? Ini semua sederhana! Lo ngkhianatin gue dengan sahabat sendiri! Gimana bisa lo bilang ini rumit?” Suara gue mulai meninggi, emosi udah nggak bisa dibendung.
Kepala gue penuh dengan pertanyaan, tapi satu yang paling mendasar Kenapa semua ini bisa terjadi? Kenapa orang-orang yang gue percaya malah jadi sumber sakit hati?Tapi gue udah nggak mau denger lagi. Semua kata-kata itu cuma jadi latar belakang dari kekacauan yang ada di pikiranku. Gue udah nggak bisa ngomong apa-apa lagi karena shock, kayak nggak percaya sama apa yang baru aja terjadi di depan mata gue.
rasa nya semua kenangan buruk mulai berdatangan. Momen-momen yang selama ini bikin gue curiga mendadak jadi jelas. Gue pas-in tanggal dan hari-nya. 31 Maret, hari di mana segalanya terbongkar, dan setiap detil yang pernah terasa aneh kini jadi potongan puzzle yang terhubung.
Gue inget saat KH dan RV lebih sering berduaan, saat KH menghindar dari gue, dan ketika RV dengan gampangnya ngebahas hal-hal yang seharusnya jadi privasi gue. Semua itu kayak gelombang ombak yang menghantam, bikin gue terhanyut dalam kebohongan yang udah mereka bangun.
“Jadi ini semua udah direncanakan?” hati gue tertegun, ngerasa terjebak di antara keinginan buat percaya dan kenyataan pahit yang harus gue hadapi. Rasanya kayak dunia ini runtuh, dan semua orang yang pernah ada dalam hidup gue yang seharusnya jadi pelindung malah berubah jadi pengkhianat.
**
Flashback: Saat kita masih SD, RV dan gue sering main bareng. Dia suka banget dengan boneka-boneka, sedangkan gue lebih suka main di kebun. Kita nggak pernah ribut soal itu dia seneng dengan dunianya, dan gue dengan dunia gue.
Ada satu momen yang nggak pernah gue lupa. Waktu itu dia bilang, "RV, kalau kamu jadi dokter, aku pengen jadi perawatmu!" Kita ketawa bareng, bercanda soal masa depan yang cerah. Saat itu, semua terasa murni dan sederhana, seolah-olah kita bakal selalu ada buat satu sama lain.
Tapi sekarang, gue sadar semua janji-janji itu cuma khayalan masa kecil. Persahabatan kita hanyalah ilusi. Apa yang dulu gue anggap tulus, ternyata nggak lebih dari bayangan kosong. Dia nggak cuma ngelukain gue dia ngerusak semua kepercayaan gue, seakan-akan tiap kenangan baik berubah jadi mimpi buruk yang terus menghantui.
Gue benci hari ulang tahun gue. Ingat banget, pas ulang tahun, kita bertiga gue, K, dan RV merayakan bareng. Gue awalnya seneng, tapi lama-lama ngerasa ada yang aneh. K, pacar gue, nggak cium gue kayak biasanya. Gue coba positive thinking, mungkin dia malu depan temen-temen. Ternyata salah! Hahaha. Dia bersikap kayak gitu karena dia lagi menjaga perasaan RV.
“K, kamu kenapa?” tanya gue saat itu. Dia cuma senyum, tapi senyumnya terasa hambar. Tapi sekarang gue sadar, alasan sebenernya adalah karena dia udah ada hubungan sama RV. “Dia nggak mau nyakitin RV, padahal gue yang harusnya dijaga,” pikir gue. Itu momen di mana gue bener-bener mulai curiga ada yang nggak beres di antara mereka.
FLASHBACK: inget banget waktu itu gue lagi ribut sama si K ini, terus gue nyoba ngajak RV. “Eh, lo mau kemana? Ayo kita keluar!” Gue bilang ke RV. “Gue mau di rumah aja, Kak,” jawabnya. “Kenapa?” tanya gue. RV cuma bilang, “Gpp, gue lagi mager keluar.” Tapi waktu itu, gue nggak mikir yang macem-macem. ya gimana ya gak pernah kepikiran aja gitu.
Ada satu momen yang sampai sekarang gue inget banget. Waktu itu, gue lagi mau bikin nail art, dan tangan gue nggak bisa ngetik. “RV, tolong chat K. Tanyain dia mau makan apa,” kata gue. Tapi dia malah panik, “Eh, sebentar, gue mau...” Dia buru-buru ngehindar dari gue. Ternyata, dia lagi ngehapus chat dia sama K. sebenarnya gue udah agak ngeh cuma gue gak terlalu mikir yang negatif.
pas gue inget-inget, RV ini suka belanja mulu. Dari mana dia dapet duit segitu banyak? Gue nggak pernah nanya karena gue nggak mau kepo sama urusan orang. Tapi ternyata jawabannya ada di depan mata gue. Uang itu dari K. Bahkan, saat kita belanja bareng, RV selalu milih barang-barang mahal, dan gue cuma bisa geleng-geleng kepala,
Gue juga pernah mimpi aneh sebelum semua ini kejadian. Mimpi K selingkuh sama RV, tapi waktu itu gue cuma ketawa. “Ah, cuma mimpi doang, nggak mungkin beneran.” Tapi dua bulan kemudian, Makkkjrengggg, mimpi itu jadi kenyataan. Rasanya kayak diombang-ambingkan antara kenyataan dan mimpi buruk yang nggak ada habisnya.
“Lo kebanyakan mikir aja,” kata DV, sambil menggelengkan kepala. Ternyata, perasaan gue bener dari awal. Di bulan Januari, gue inget banget kalau gue sama DV ini ada Spill the tea ngomongin masalah ini. Alias, gue sama DV ini emang udah curiga, tapi kita tetap positif thinking, berharap semua ini cuma salah paham.
“Gue rasa RV nggak segitunya deh,” kata DV waktu itu, berusaha menenangkan gue. “Mungkin lo cuma paranoid.”
Tapi yang lebih bikin gue sakit hati, orang tua RV tau semua ini. Mereka tau anak mereka selingkuh sama pacar gue, tapi mereka dukung anaknya.
“Lo tau nggak sih, anak lo udah ngancurin hidup gue?!” kata gue dengan nada marah saat gue confront mereka. “Dia udah bikin semua yang gue bangun hancur berantakan!”
Mereka cuma saling pandang dan diem, kayak gak ada yang mau ngomong. “Gue heran, gimana bisa ada orang sejahat itu hidup deket gue?” gumam gue, sambil merasa makin terpuruk.
Setiap kali gue inget semua ini, gue cuma bisa ketawa sinis. “Gue merasa bodoh,” bisik gue ke diri sendiri. Dulu, banyak yang bilang, “Jangan kasih dia tempat tinggal, nanti lo yang susah sendiri.”
Tapi gue kasihan. “Gue pikir, dia butuh pertolongan. Ternyata, dia cuma datang buat ngancurin hidup gue,” kata gue, menahan air mata. “Gue udah kayak orang bodoh yang ngasih kesempatan kedua, tapi semua ini malah jadi bumerang.”
“Gue nggak bisa percaya ada orang yang bisa ngelakuin ini,” kata DV dengan tatapan prihatin. “Lo harus move on, bro. Ini bukan kesalahan lo.”
“Gue tahu, tapi sakit banget liat semua yang udah terjadi,” jawab gue sambil menghela napas. “Setiap detik rasanya kayak hidup dalam mimpi buruk.”
**
Gak lama setelah kejadian ini, RV mulai banyak tingkah, seolah-olah dia sedang berperan sebagai korban. Gue juga denger kalau dia buka hijabnya, seolah-olah itu simbol dari kebebasan.
“Gue nggak mau jadi orang baik lagi,” ujarnya dengan air mata palsu. “Lo bikin hidup gue susah!”
Dan lo tau yang paling bikin gue gak bisa berkata-kata lagi? Setelah beberapa temen gue notice masalah ini, RV malah bermain peran sebagai korban. Dia bikin drama di media sosial, bikin story seolah-olah dia yang paling disakiti.
“Gue sampe bingung deh, RV kenapa bisa sejahat ini?” salah satu temen gue komentar di grup chat. “Dia yang nusuk lo dari belakang, bukan lo!”
Dia nulis curhat ngalor-ngidul, berusaha menarik simpati orang-orang supaya kasihan sama dia. Semua kesalahan dilemparkan ke gue, bener-bener licik.
“Gue benci hidup gue sekarang,” tulisnya. “Semua gara-gara orang yang gak ngerti gue.”
Tapi ya udah lah ya, hidup ini jadi pelajaran yang gak akan gue lupain. Dia bikin drama seolah-olah dia yang paling tersakiti, padahal dia yang nyakitin gue.
Dia lepas hijabnya, seakan itu tameng terakhir yang dia tinggalin. “Gue lepas ini semua karena gue pengen jadi diri sendiri!” teriaknya di media sosial, dengan caption yang berusaha bikin orang lain merasa kasihan.
Di mata gue, jilbab atau enggak, dia tetap sama pengkhianat dan pembohong. Bukannya introspeksi, malah playing victim.
“Gue udah kasih lo banyak kesempatan,” pikir gue sambil menggelengkan kepala. “Tapi semua ini, kayaknya udah keterlaluan.”
Kejadian ini bikin gue sadar, kadang orang yang paling dekat sama kita bisa jadi yang paling berbahaya. Hahaha, lucu sih, tapi di satu sisi, gue juga merasa sakit.
***
Gue belajar satu hal dari semua ini jangan pernah terlalu percaya sama orang, bahkan sahabat lo sendiri. Lo nggak pernah tau kapan mereka bakal nusuk lo dari belakang. Tapi di balik semua rasa sakit ini, gue yakin Tuhan pasti punya rencana baik ke depannya.
Gue percaya ada alasan kenapa Tuhan jauhin gue dari si RV. Karena apa yang nggak ngebunuh lo, cuma bikin lo makin kuat. Dan sekarang, dengan semua pengalaman pahit ini, gue siap jadi orang yang lebih kuat dari sebelumnya.
Dan kalau lo baca ini, RV, gue mau lo inget satu hal: karma nggak pernah salah alamat. Lo bisa acting jadi korban, bikin orang-orang percaya lo tersakiti. Tapi nggak ada topeng yang bisa lo pake selamanya. Sekarang lo bisa bikin drama seolah lo yang paling menderita. Tapi waktu semua orang udah tahu siapa lo sebenarnya, lo akan jatuh lebih keras dari apa yang lo lakuin ke gue.
Gue pengen lihat lo hancur lebih parah dari gue sekarang. Gue mungkin pernah bodoh, pernah kasih hati gue ke orang yang salah. Tapi sekarang? Gue beda. Dan kalau lo pikir gue bakal nangis dan tenggelam dalam luka? Salah besar. Luka gue bukan buat menghancurkan, tapi buat membangun ulang diri gue lebih kuat dari sebelumnya.
Ingat ini baik-baik, lo bisa punya seribu topeng, bisa manipulasi dunia, tapi karma bakal selalu menemukan lo entah cepat atau lambat. Dan waktu itu tiba, gue akan ada di sana, diem-diem senyum puas sambil nunggu lo dapet apa yang lo tanam. Yass, apa yang udah lo tabur, pasti akan lo tuai.
Selamat menjalani hidup penuh dengan penuh rasa bersalah, RV. Semoga lo menikmati setiap drama yang lo buat. Setiap kebohongan yang lo ukir akan kembali menghantui lo. Lo mungkin berpikir bisa terus menipu orang-orang di sekitar lo, tapi percaya deh, semua itu cuma sementara. Ketika realitas menyadarkan lo, saat itulah lo akan merasakan pahitnya penyesalan. Lo akan paham betapa sempitnya jalan yang lo pilih, dan betapa hancurnya semua yang lo bangun dengan cara kotor.
Jadi, nikmatin aja perjalanan lo, karena gue yakin, gak ada yang lebih memuaskan dari melihat lo jatuh ke dalam lubang yang lo gali sendiri.
***
Sebenernya banyak yang mau gue tulis di sini tentang gimana cerita ini. Tentang semua orang yang udah jadi saksi bisu drama ini, tentang bagaimana mereka berusaha membuka mata gue, dan tentang perjalanan gue yang penuh liku-liku setelah lo pergi. Gue pengen cerita tentang bangkitnya gue dari kehampaan, tentang cara gue merangkai kembali potongan-potongan hidup yang sempat hancur. Setiap kata yang keluar dari mulut orang-orang yang peduli, setiap dukungan yang datang, bikin gue sadar kalau hidup ini lebih dari sekadar pengkhianatan lo.
Tapi untuk sekarang, biarlah cerita ini jadi pengingat. Bahwa setiap luka yang lo timbulkan, hanya bikin gue makin kuat. Gue siap untuk melanjutkan hidup dan menghadapi semua tantangan yang ada di depan.
~ Thank you!






