Halo! aku kembali untuk menceritakan kisah percintaanku beberapa tahun lalu, ya sebenarnya gak penting untuk di tumpahkan disini, namun untuk mengingat moment yang pernah hadir dalam hidupku maka aku mau menceritakan sedikit dalam blog ini.
![]() |
| Batam 2015 |
Selama pacaran, tentu ada pro dan kontra, terutama dari teman-temanku yang kadang mulutnya bisa sangat jahat. Ada yang pernah berkata, “Kok dia mau sih pacaran sama lu?” Pernah merasa insecure? Tentu saja. Aku sering merasa tidak percaya diri, merasa tidak pantas, dan selalu bertanya-tanya apa alasan K memilihku?. Padahal di luar sana banyak wanita yang lebih cantik, lebih fashionable, lebih pintar, dan lebih baik dariku. Aku sering kebingungan bagaimana caranya agar aku bisa mengimbangi dia. Namun, aku yakin sebelum memilihku, Kim pasti sudah mempertimbangkan semuanya dengan matang.
**
Siapa yang harus di salahkan?
Namun, seperti yang sering terjadi dalam kehidupan, tidak semua berjalan sesuai rencana. Meskipun awalnya kami merasa semuanya baik-baik saja, ternyata kenyataan berkata lain. Mungkin memang masa kami sudah habis. maka dari itu tidak ada yang bisa di salahkan. selama LDR , K tidak pernah selingkuh atau melakukan hal fatal yang merusak hubungan kita. Mungkin jarak yang menjadi penyebab. karena jarak juga yang membuat komunikasi kita sering menjadi pemicu nya.
Setelah kontrak kerjaku di Batam selesai, aku memutuskan untuk kembali ke Jakarta, sedangkan Kim tetap tinggal di Batam. Setelah beberapa bulan menjalani hubungan jarak jauh, kami hanya bertemu lima kali ketika Kim datang ke Jakarta. Hubungan kami yang dulu erat, sekarang mulai renggang. Komunikasi yang dulu lancar, kini terasa sulit. Perbedaan pendapat sering memicu pertengkaran kecil yang semakin sulit diatasi. Kami berusaha mengisi kekosongan, namun semakin kita mencoba, semakin kita merasa kosong. Kita berusaha mencari jalan keluar, namun semakin kita mencari, semakin kita tersesat. Kami mencoba memahami satu sama lain, namun semakin bingung. Lama kelamaan, hubungan kami menjadi jenuh dan monoton. Kami tidak lagi menanyakan kabar satu sama lain, tidak mencari, dan sibuk dengan dunia masing-masing. Akhirnya, kami menjadi asing seperti tidak pernah saling mengenal sebelumnya. Hubungan yang sudah kami bangun selama dua tahun itu pun berakhir tanpa penjelasan dan tanpa kejelasan. Hubungan jarak jauh memang tidak mudah. Ketika aku kembali ke Jakarta, kehidupan terasa berbeda. Kami berusaha tetap berkomunikasi, tapi jarak dan kesibukan masing-masing perlahan menjadi penghalang. Pertemuan yang jarang membuat kami merasa semakin jauh satu sama lain. Kami berusaha, tapi kenyataannya, cinta juga butuh kehadiran yang nyata.
**
Berdamai Dengan Kehilangan
Aku percaya, di balik setiap pertemuan antara dua insan, semesta selalu punya rencana dan tujuan tersendiri. Kadang memang ditakdirkan untuk bersatu, tapi tidak jarang juga hanya untuk sekadar menjadi pelajaran bagi satu sama lain untuk bertumbuh dan menjadi lebih dewasa. Bayangkan saja, di antara miliaran manusia, kenapa harus aku dan kenapa harus kamu. Semua itu sudah diatur alur dan jalan ceritanya. Kita di sini hanya berperan sebagai pemeran utama dalam kisah masing-masing. Mungkin seringkali aku penasaran dengan akhir cerita dari setiap pertemuan yang aku lalui hingga hari ini. Tapi ya sudahlah, aku percayakan saja naskahnya kepada semesta yang bijaksana.
Walaupun beberapa kali terjebak dalam kebingungan dan tanda tanya besar, aku selalu percaya semesta takkan pernah mengecewakan. Nanti juga akan paham kok. Jadi, jika memang kita harus berakhir, aku takkan marah. Begitu juga, aku tidak akan sedih atau kecewa. Mungkin memang peranmu dalam kisahku saja yang sudah saatnya berakhir (begitu juga sebaliknya). Toh, tidak ada yang pernah tahu, apakah kamu hanya akan menjadi sosok yang nantinya hanya akan menghiasi lembaran ucapan terima kasihku atau mungkin semesta sedang menyiapkan alur lain untuk mempertemukan kita kembali di lembaran-lembaran yang akan datang. No one knows. Apapun itu, aku bersyukur untuk kamu. Aku bersyukur untuk kisah ini.
Mungkin sekarang, saat aku merenungkan semuanya, aku bisa melihat bagaimana pertemuan kami di Batam adalah bagian dari perjalanan hidup yang penuh warna. Kim, dengan segala kualitas yang membuatnya istimewa, adalah seseorang yang mengajarkanku banyak hal.
Waktu cepat berlalu, tapi kenangan tetap bertahan. Seperti saat kami menikmati deburan ombak di tepi pantai balerang, atau saat-saat kita kabur dari kantor untuk menikmati waktu berdua di nongsa? atau juga untuk sekedar nonton bioskop di jam kerja? HAHAHAH lucu yaaa kita ternyata dulu suka cari masalah. mungkin juga hal sederhana seperti makan malam di warung favorit kami. Setiap momen, sekecil apapun, terasa berarti. Kim, terima kasih sudah mencintaiku dengan sebegitu dalamnya, terima kasih sudah selalu menganggap bahwa aku ini berharga dan layak untuk dicintai. Terima kasih karena sudah hadir dalam hidupku yang penuh dengan penderitaan sebelum nya. Terima kasih sudah menjadi terang walaupun hanya sementara. Terima kasih karena selalu menyempatkan waktu untuk mewujudkan mimpi kecilku. Kamu tahu aku suka pantai, bukan? Apakah kamu ingat botol yang kita isi pesan harapan kita di pantai Barelang? Sudah sampai mana ya botol itu? ternyata hal seru, lucu, gila, romantis dll yg pernah kita berdua lewati itu sulit untuk di lupakan ya, mungkin karena terlalu manis. heheh
**
mencoba sekali lagi.
Setelah kurang lebih hampir satu tahun tujuh bulan tanpa komunikasi, kamu tiba-tiba muncul kembali dalam hidupku. Tidak bisa dipungkiri, saat itu aku masih merindukanmu. Bodohnya aku, mengapa aku merespons, padahal aku tahu akhirnya kita tidak akan bersama.. dan yaa tanpa di sadari kita menjalani lagi hubungan itu tanpa pernah berfikir akan berakhir kembali karena kamu meyakinkan aku kalau kamu tidak akan pergi lagi. tapi nyata nya apa?Kamu datang dan pergi seenaknya, meninggalkan luka yang semakin dalam. Harapan palsu hanya menambah kepedihan yang sudah ada. Aku seharusnya lebih kuat, lebih bijak. Jangan datang lagi dengan alasan apapun. Sudah cukup.
Luka ini terlalu dalam untuk diobati dengan kata-kata. Aku butuh waktu untuk sembuh, untuk menemukan kebahagiaan tanpa kehadiranmu. Menyesal tidak akan merubah apa-apa. Alasan tidak akan menyembuhkan luka ini. Aku harus maju tanpa beban masa lalu.
Sakit dan luka yang kamu tinggalkan membuatku terpuruk. Biarkan aku menemukan kekuatan dalam diriku sendiri. Biarkan kenangan kita tetap menjadi kenangan, tanpa harus dihidupkan kembali. Hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan dalam penyesalan. Sudah cukup.
Aku memilih untuk mencari kebahagiaan, kedamaian, dan ketenangan. Jangan datang lagi. Sudah cukup. Aku memilih melepaskan dan melangkah maju.
Aku pantas mendapatkan cinta yang tulus, tanpa keraguan, tanpa drama. Aku layak untuk bahagia tanpa harus terus-menerus teringat akanmu. Setiap langkah ke depan adalah langkah menjauh darimu dan mendekat pada diriku sendiri. Kali ini, aku memilih untuk menjadi kuat. Sudah cukup. Ini saatnya aku hidup untuk diriku sendiri. Akhirnya, kami menyadari bahwa mempertahankan hubungan hanya karena takut berpisah bukanlah jawaban. Setiap kali bertengkar karena hal-hal sepele, aku merasakan ada yang hilang. Kebahagiaan yang dulu kami rasakan perlahan memudar. Bukan salah siapa-siapa, hanya saja waktu dan keadaan membuat kami harus berpisah.
**
Selasai.
Hari-hari setelah perpisahan itu begitu berat. Ada rasa sakit yang menusuk setiap kali mengingat kenangan bersama Kim. Terkadang, aku masih berharap semua ini hanya mimpi buruk yang akan segera berlalu. Namun, kenyataan seringkali lebih kejam daripada yang kita bayangkan. Aku sering terbangun di tengah malam dengan hati yang terasa hampa, merindukan kehadirannya di sisiku.
Aku yakin, setiap orang yang datang dalam hidup kita membawa pelajaran. Kim adalah bab penting dalam hidupku. Dia mengajarkanku tentang cinta, pengertian, dan ketulusan. Meski kami berpisah, aku tetap menghargai setiap momen yang pernah ada.
Sekarang, aku memilih untuk percaya bahwa semesta punya rencana yang lebih baik. Siapa tahu, mungkin di masa depan, jalan kami akan bertemu lagi dalam keadaan yang lebih baik. Atau mungkin, peran kami dalam kisah masing-masing memang sudah selesai.
Aku bersyukur untuk setiap kenangan yang pernah kami ciptakan. Setiap tawa, setiap obrolan, setiap pelukan, semuanya adalah bagian dari perjalanan hidupku. Kim, terima kasih untuk semuanya. Terima kasih sudah menjadi bagian dari hidupku, walau hanya untuk sementara waktu. Aku percaya, ke depan, kisah kita masing-masing akan tetap indah, meski tidak bersama.
Dan begitulah, perjalanan cinta kadang membawa kita pada perpisahan. Tapi dari perpisahan itulah, kita belajar menjadi lebih kuat dan lebih dewasa. Terima kasih, Kim, untuk semua pelajaran berharga ini. Semoga kamu juga menemukan kebahagiaanmu di sana.,
kamu adalah penyembuh sekaligus luka terhebatku. Selamat berbahagia semoga Tuhan selalu ada di pihakmu.





